Hasil penelitian oleh banyak ilmuan telah membuktikan bahwa terdapat hubungan yang erat antara keanekaan hayati (biodiversity) dengan layanan ekosistem. Tiga komponen utama biodiversity yang terdiri dari species diversity, genetic diversity, dan ecosystem diversity terbukti bertanggung jawab terhadap peningkatan layanan ekosistem. Tidak heran jika masalah biodiversity menjadi isu sentral dari ilmu pengetahuan alam.

Dr Satoru Okubo saat berbicara di seminar bertema “Keanekaan Hayati dan Layanan Ekosistem” di Rumah Sakit Pendidikan Unpad, Selasa (20/09) kemarin. (Foto: Malikkul Shaleh)

Petikan pemikiran itu menjadi salah satu hal yang dibicarakan pada acara Seminar Nasional Biologi dan lomba poster bertemakan Keanekaan Hayati dan Layanan Ekosistem. Acara yang diadakan di Aula Rumah Sakit Pendidikan Unpad, Jln. Eyckman No. 38, Bandung, Selasa (20/09) ini diselenggarakan oleh Jurusan Biologi, FMIPA Unpad bekerja sama dengan Program Studi Magister Ilmu Lingkungan (PSMIL) Unpad, Universitas of Tokyo, Jepang dan juga Himpunan Mahasiswa Biologi (Himbio).

Adapun para pembicara utama dalam acara seminar nasional ini, yaitu Prof. Tadashi Miyashita dan Dr. Satoru Okubo dari the University of Tokyo, Dr. Shori Yamamoto (National Institute for Agro-Environmental Sciences, Tsukuba), Prof. Hertien Koosbandiah Surtikanti, M.Sc.ES.,Ph.D (Universitas Pendidikan Indonesia), Prof. Oekan S. Abdoellah (Ketua LPPM Universitas Padjadjaran) dan Prof. Johan Iskandar (Guru Besar Etnobiologi Unpad). Selain dihadiri pula oleh Dekan FMIPA Unpad, Prof. Dr. Wawan Hermawan, MS  dan Dr. AB Susanto, Koordinator Program Beasiswa Unggulan Kemendiknas.

Prof. Tadashi berpendapat bahwa keterkaitan antara keanekaan hayati dengan layanan ekosistem ini pada akhirnya akan memengaruhi hidup manusia, karena kualitas layanan ekosistem ternyata dipengaruhi oleh kondisi keanekaan hayati dalam suatu ekosistem. Semakin tinggi keanekaan hayati di dalam suatu ekosistem, semakin baik layanan ekosistem yang dapat dimanfaatkan oleh manusia. Namun sayang, manusia sebagai user dari layanan ekosistem tidak dapat mengatur layanan itu dengan baik sehingga menimbulkan permasalahan terharap keanekaan hayati.

“Menjaga kondisi keanekaan hayati sangat penting dalam menjamin keberlanjutan suatu ekosistem sehingga bisa bermanfaat bagi kehidupan manusia,” ujar Prof. Tadashi.

Alih guna penggunaan lahan merupakan salah satu permasalahan yang dapat mengancam keanekaan hayati dewasa ini. Banyak kita lihat bagaimana suatu ekosistem diubah fungsinya untuk tujuan lain dengan hanya memperhatikan aspek ekonomi. Akibatnya, ekosistem mengalami degradasi (layanan ekosistem menurun). Padahal jika dikelola secara komprehensif dengan termasuk  memperhatikan daya dukung, tentu akan baik hasilnya.

Penyelesaian permasalahan keanekaan hayati dan menurunnya layanan suatu ekosistem tidak bisa dilakukan secara parsial. Banyak aspek yang harus dipertimbangkan termasuk aspek sosial budaya. Hal ini bisa ditemui pada upaya pengelolaan suatu ekosistem yang di dalamnya terdapat kehidupan sosial budaya masyarakat tradisional.

“Kebiasaan-kebiasaan masyarakat tradisional terbukti telah berhasil mempertahankan kondisi lingkungannya bukan justru sebaliknya. Mereka harus tetap dipertimbangkan dalam upaya menjaga keanekaan hayati suatu ekosistem,” tutur Prof. Johan.  *